Home | Materi | News & Opini | Tiga Dampak Negatif Ketika PTM Tak Kunjung Berjalan

Tiga Dampak Negatif Ketika PTM Tak Kunjung Berjalan


Siswa SMP saat akan mengikuti PTM. ©2021 Kontributor Semarang/Danny Adriadhi Utama

Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang tak kunjung berjalan di sejumlah daerah di Indonesia yang masih dinilai rentan infeksi Covid-19 dikhawatirkan akan dibuntuti oleh hadirnya dampak sosial negatif berkepanjangan yang dirasakan oleh para pelajar dari berbagai level pendidikan.

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar/Ditjen Guru dan Tenaga Pendidikan (GTK) Kemendikbudristek RI, Rachmadi Widdiharto, mengkhawatirkan efek jangka panjang tersebut.

Rachmadi menyampaikan bahwa setidaknya terdapat tiga dampak sosial negatif yang ia khawatirkan bisa berlangsung secara berkepanjangan. Ketiganya adalah pelajar putus sekolah, penurunan capaian belajar, dan kekerasan pada anak dan adanya risiko eksternal.

Rachmadi menyampaikan bahwa terdapat dua sebab yang mendorong pelajar bisa putus sekolah. Penyebab pertama adalah situasi yang memaksa anak harus bekerja dengan tujuan membantu orang tua mencari nafkah untuk membeli sesuap nasi sehari-hari.

“Ada dampak sosial berkepanjangan. Angka putus sekolah. Risiko putus sekolah semakin tinggi karena anak dipaksa untuk bekerja membantu orang tua di kondisi seperti ini,” ujar Rachmadi dalam diskusi publik virtual bertajuk Harap-harap Cemas PTM Terbatas: Mencari Solusi Pembelajaran di Tengah Pandemi yang digelar Jumat, (2/7).

Penyebab kedua putus sekolah adalah karena persepsi orang tua itu sendiri. Rachmadi menilai bahwa banyak orang tua yang tak mampu melihat peranan penting sekolah dalam proses belajar mengajar apabila proses pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka.

Kemudian, dampak sosial negatif kedua yang terjadi adalah penurunan capaian belajar. Rachmadi melihat bahwa masalah ini disebabkan oleh dua faktor.

Faktor pertama adalah adanya kesenjangan capaian belajar. Rachmadi memandang bahwa perbedaan akses dan kualitas selama pembelajaran jarak jauh dapat mengakibatkan kesenjangan capaian belajar, terutama untuk anak dari kelompok sosio-ekonomi yang dinilai kurang beruntung.

Faktor kedua yang menyebabkan turunnya capaian belajar adalah hadirnya “learning loss” atau kehilangan minat belajar dalam diri pelajar. Rachmadi menyebut satu studi yang menemukan bahwa pembelajaran di kelas menghasilkan pencapaian akademik yang lebih baik saat dibandingkan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Lalu, dampak sosial negaitf ketiga akibat PTM yang tak kunjung diterapkan adalah hadirnya kekerasan pada anak dan risiko eksternal. Rachmadi menyebut adanya kekerasan yang tak terdeteksi, seperti banyaknya anak yang terjebak dalam kekerasan di dalam rumah tanpa terdeteksi guru.

Kemudian risiko eksternal yang dikhawatirkan oleh Rachmadi adalah peningkatan risiko pernikahan dini, eksploitasi (terutama anak perempuan), dan kehamilan remaja. Semua hal tersebut dikhawatirkan terjadi apabila anak-anak tak kunjung pergi ke sekolah.

“Seiring itu pula kekerasan pada anak dan risiko-risiko eksternal juga terjadi. Adanya perundungan, bullying, dan sebagainya masih terjadi. Termasuk juga kalau kita mencermati di beberapa media sosial, termasuk juga media elektronik, bagaimana itu ada pernikahan dini, kehamilan remaja, dan sebagainya,” pungkas Rachmadi.

Kini, dengan diterapkannya PPKM Darurat di Pulau Jawa dan Bali pada tanggal 3-20 Juli 2020, kegiatan PTM kembali urung dilakukan di sebagian besar wilayah yang bersangkutan. Pasalnya, salah satu ketentuan dalam aturan tersebut menjelaskan bahwa seluruh kegiatan belajar mengajar harus dilakukan secara daring.

Sumber : https://www.gatra.com/detail/news/516092/info-pendidikan/tiga-dampak-negatif-ketika-ptm-tak-kunjung-berjalan

About NHSC Kebumen

Check Also

CEK SCORE SKDmu Yuk !!!

Ujian Seleksi Kompetensi Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun Anggaran 2021 (Tes SKD CPNS 2021) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *