Home | Materi | News & Opini | Guru dan Orangtua, Pahami Beda Gejala Virus Flu dan Corona pada Anak

Guru dan Orangtua, Pahami Beda Gejala Virus Flu dan Corona pada Anak

Wabah virus Corona Covid-19 membuat sejumlah tempat umum melakukan pemeriksaan suhu sebagai langkah awal mendeteksi virus Corona, baik di bandara, stasiun, kantor, termasuk sekolah-sekolah.

Walau begitu, demam tak bisa dijadikan satu-satunya cara untuk mendeteksi gejala virus Corona Covid-19. Sehingga, guru dan pihak sekolah perlu memahami lebih rinci tentang gejala virus Corona terlebih pada anak-anak.

Menurut Pulmonologist Siloam Hospital Yogyakarta Paulus Wisnu Kuncoromurti, gejala awal infeksi virus Corona tidaklah spesifik dan hampir mirip dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) seperti flu maupun pneumonia.

“Antara anak dan dewasa sebenarnya tidak ada perbedaan dalam hal ketahanan terhadap virus ini. Gejala pada anak juga sama dengan dewasa. Hanya pada anak yang sekolah memiliki faktor lingkungan yang mendukung penyebaran virus, yaitu lingkungan yang padat,” imbuh dokter yang akrab disapa Wisnu.

Hanya saja, gejala virus Corona pada anak kerap tidak separah orang dewasa. Pasalnya, orang dewasa cenderung memiliki penyakit lain, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, atau penyakit jantung, yang melemahkan kemampuan tubuhnya untuk mencegah infeksi.

“Orang dengan penyakit berat atau menahun sebelumnya seperti jantung, diabetes, ginjal, stroke lebih rentan terinfeksi Corona,” ujar Wisnu.

Itulah mengapa, gejala virus Corona pada anak-anak sering tak kasat mata, namun anak bisa merasa tidak nyaman dan terganggu aktivitasnya.

Berikut gejala klinis infeksi virus Corona :

1. Demam

Demam merupakan respon alami tubuh untuk melawan infeksi virus maupun bakteri. Saat suhu tubuh tinggi, maka kemungkinan ada virus dan bakteri yang mati sehingga mempercepat proses penyembuhan.

Kondisi demam pada anak yang perlu diwaspadai ialah saat mencapai suhu lebih dari 38 C dan berlangsung lebih dari 3 hari. Setelah lewat 3 hari dan anak masih alami demam, maka guru dan orangtua wajib memastikan anak mendapatkan pemeriksaan intensif di pusat layanan kesehatan.

2. Batuk

Sama seperti demam, batuk juga bukan penyakit. Melainkan respon tubuh terhadap benda asing yang ada di saluran napas dan paru-paru, bisa berupa virus, bakteri atau lendir. Batuk perlu diwaspadai bila anak juga mengalami demam, napas anak terdengar berat, dan anak mengeluh dadanya sakit atau sesak napas.

3. Sakit tenggorokan

Anak mungkin belum bisa mengomunikasikan bila ia mengalami sakit atau radang tenggorokan. Namun, tenggorokan yang sakit umumnya membuat anak sulit makan, sedikit minum, batuk, dan terlihat mual saat menelan sesuatu. Guru dan orang tua perlu waspada saat anak mulai terlihat dehidrasi dan kurang nutrisi yang ditandai dengan lemas, bibir kering, dan kulit yang tidak elastis saat dicubit.

4. Letih dan lesu

Batuk pilek pada anak bisa jadi tak berbahaya bila anak masih bisa makan, berkativitas, dan tertawa sepeti biasa. Namun, bila anak mulai terlihat lemas dan tak bergairah di kelas, inginnya tiduran, terlebih suhu tubuhnya mulai menghangat, tandanya tubuh anak perlu beristirahat di rumah. Guru juga bisa menyarankan orangtua untuk memeriksakan anak ke pusat layanan kesehatan agar kesehatan anak tidak terus menurun.

5. Gangguan pernapasan

Gangguan pernapasan bisa ditandai dengan suara tarikan napas yang berat dan anak mengeluhkan sesak atau dadanya sakit. Ini merupakan gejala tak bisa disepelekan sehingga anak harus segera mendapat pemeriksaan medis.

“Virus [Corona] masuk melalui saluran pernapasan, kemudian lanjut melalui trakea dan sampai akhirnya di jaringan paru. Virus bereaksi dengan sistem pertahanan tubuh di paru, apabila sistem pertahanan tubuh kalah maka virus menimbulkan peradangan di paru,” jelas Wisnu.

Ia melanjutkan, “Saat timbulnya radang inilah mulai timbul demam, batuk, sesak, dan gejala lain. Pada ronsen terlihat gambaran infeksi paru. Apabila tidak dilakukan pengobatan maka gejala akan semakin parah.”

6. Kondisi bertambah buruk

Selain gangguan pernapasan, kondisi lain yang kerap membedakan antara virus Corona dengan ISPA atau pneumonia adalah kondisi anak dapat memburuk dari waktu ke waktu.

Apalagi, tak semua anak bisa menyampaikan apa yang dirasakannya. Sehingga guru dan orangtua perlu aktif dalam memantau dan menanyakan kondisi anak, terutama saat ia terlihat mengalami sejumlah gejala tadi secara bersamaan.

Artikel ini saya kutip dari Kompas.com

About NHSC Kebumen

Check Also

CEK SCORE SKDmu Yuk !!!

Ujian Seleksi Kompetensi Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun Anggaran 2021 (Tes SKD CPNS 2021) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *